10 Bunuh Diri Massal Semasa Peperangan

December 21, 2013

Kejadian satu orang saja yang mengambil hidupnya sendiri sudah cukup menyedihkan dan membingungkan, apalagi jika mengetahui fakta bahwa telah terjadi bunuh diri pada skala besar dalam situasi yang mengerikan.

10. Pilenai

bunuh diri massal

Pada tanggal 25 Februari 1336, kastil Pilenai (sekarang adalah Lithuania) dikepung oleh Ksatria Teutonik. Tentara kastil, dipimpin oleh Duke Margiris, berjuang dengan gagah berani. Namun dengan kekuatan hanya sekitar 4.000 tentara saja untuk mempertahankan kastil, Duke mengakui bahwa ia tidak bisa memenangkan peperangan. Mengetahui bahwa rakyatnya akan berubah menjadi budak, ia memanggil pasukannya turun, menghancurkan semua harta benda mereka, dan kemudian melakukan bunuh diri massal.

Opera Pilenai oleh Vytautas Klova bercerita tentang pengepungan tragis tersebut.

9. Saipan

bunuh diri

Pertempuran Pulau Saipan di Pasifik menjadi pertempuran paling diingat sebagai momen luar biasa bagi pertentangan militer AS, tapi ada satu lagi tindakan pertentangan yang terjadi selama pertempuran berdarah tersebut: bunuh diri massal.

Ketakutan pasukan AS akan menyiksa dan membunuh mereka – terutama karena propaganda yang dilakukan oleh tentara Jepang – warga Saipan masuk ke laut, atau melompat dari tebing dan tenggelam sendiri. Adegan bunuh diri massal yang paling terkenal adalah di Marpi Point, jurang curam setinggi 250 meter (800 kaki) di mana tentara Amerika menyaksikan seluruh keluarga melemparkan diri ke dalam gelombang laut. Pertama anak-anak, yang lebih tua mendorong anak-anak yang lebih muda, kemudian ibu mereka akan mendorong anak-anak yang lebih tua tersebut, dan akhirnya ayah akan mendorong istrinya, sebelum dia melompat sendiri. Diperkirakan 22.000 warga sipil tewas dengan cara ini.

8. The Fort Of Chittorgarh

bunuh diri massal

Jauhar adalah suatu tindakan dalam tradisi India kuno untuk pembakaran diri massal. Perbuatan itu dilakukan oleh perempuan dan anak-anak di dalam dinding istana atau kota yang dikepung ketika mengetahui akan kalah dalam peperangan. Para pria pun tidak bisa bebas tanpa hukuman: Dalam suatu tindakan yang dikenal sebagai “shaka,” mereka akan bersatu dan menyerang dalam pertempuran terakhir kalinya untuk mati terhormat.

Tindakan yang paling terkenal dari jauhar dalam sejarah India terjadi pada tahun 1303. Chittorgarh adalah ibukota Rajput dan benteng yang dihormati. Tapi ketika Alauddin Khilji mengepung benteng, ia berhasil mematahkan perlawanan. Buruannya adalah Ratu Rajput yang cantik, Rani Padmini Chittorgarh. Tapi setelah pertempuran dimenangkan, daripada jatuh ke tangan Khilji, sang ratu memilih melakukan bunuh diri bersama dengan semua wanita lain di Chittorgarh. Ini bukanlah satu-satunya pengepungan Chittorgarh yang diderita selama bertahun-tahun. Serangan lain terjadi pada tahun 1535, dan sekali lagi pada tahun 1567, dimana dua kali benteng tersebut dikalahkan dan perempuan dan anak-anak melakukan jauhar.

7. Puputan Of Badung

bunuh diri massal

Pada tanggal 20 September 1906, tentara Belanda menyerang Bali dan mendapatkan sedikit perlawanan. Ketika mereka sampai di kota Badung, mereka menemukan bahwa orang-orang di sana telah menentukan nasib di tangan mereka sendiri. Keluarga kerajaan Bali sebelumnya telah meramalkan kedatangan Belanda. Setelah mengetahui bahwa mereka kalah dalam jumlah pasukan dan perlawanan mereka akan sia-sia, Raja-raja beserta keluarga dan ratusan pengikut mereka kemudian mengakhiri hidup mereka sendiri.

Ritual Puputan Bali, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “finishing”, memerlukan pria dan wanita untuk menusuk diri dan anak-anak mereka (dari bayi yang baru lahir ke tertua) dalam aksi bunuh diri. Meskipun ini adalah contoh yang paling terkenal dari puputan, namun serangkaian puputan telah terjadi di seluruh Bali pada tahun menjelang peristiwa di Badung.

6. Teutonic Women

bunuh diri

Teuton adalah suku Jermanik yang beraksi di sekitar benua Eropa sekitar 200 tahun sebelum kelahiran Kristus. “Jermanik” adalah deskripsi yang diberikan oleh penulis Yunani dan Romawi untuk setiap suku dari Eropa Utara. Sekitar 100 SM, Teuton memutuskan untuk sedikit berpetualang, bermigrasi ke selatan dan barat, menemukan tanah yang lebih mudah untuk pertanian. Namun petualangan mereka terhalang oleh ekspansi yang pesat dari Kekaisaran Romawi.

Pada saat Tueton tiba di perbatasan koloni Romawi, penjarahan telah dilakukan sebelum mereka tiba. Jenderal Romawi Gayus Marius ada di sana untuk menghadapi mereka. Pertempuran Aquae Sextiae pun pecah dengan sengit, hampir 90.000 Tuetons tewas dan Raja Teutobod ditawan. Sebagai bentuk kekalahan Tueton, Marius kemudian memerintahkan raja untuk menyerahkan 300 wanita yang telah menikah, untuk diberikan kepada pria-pria Romawi. Tapi perempuan yang terpilih tersebut memohon kepada Marius untuk membebaskan mereka demi melakukan pelayanan di kuil-kuil dari Ceres dan Venus. Marius menolak permohonan mereka, dan ketika serdadu Romawi pergi keesokan harinya untuk membangunkan wanita-wanita tersebut, mereka menemukan semua wanita itu telah mati.

5. The Numantines

bunuh diri massal

Numantia adalah sebuah kota kecil di utara Spanyol. Kota ini ada pada abad kedua SM dan masuk ke dalam cerita rakyat setelah perlawanan delapan bulan melawan tentara Romawi. Kota ini akhirnya jatuh pada 133 SM di tangan Jenderal Scipio Aemilianus.

Para Numantines (penduduk kota Numantia) adalah orang-orang yang penuh kebanggaan. Daripada menyerahkan tubuh mereka ke tangan orang-orang Romawi, mereka melakukan bunuh diri massal. Namun itu tidak semua: Kenangan akan Numantia dipertahankan oleh Miguel de Cervantes, seorang pemain drama yang menulis El cerco de Numancia (“Penghancuran Numantia”) pada tahun 1580-an. Ia kemudian membuat sebuah pertunjukan berdasarkan peristiwa-peristiwa pada Numantia. Cerita ini bahkan digunakan selama Perang Saudara Spanyol ketika pasukan Republik dan pasukan Nacionales Franco mengadopsi citra Numantia untuk memotivasi pengikut mereka dan mempromosikan ide kematian sebagai tindakan yang terhormat.

4. Dance Of Zalongo

bunuh diri massal

Perang Souliote tahun 1803 adalah pertempuran antara Souli dan tentara Ottoman-Albania. Setelah menyadari bahwa kekalahan tidak dapat dihindari, penduduk Souli mulai mengungsi dari Souliote, namun sekelompok kecil perempuan Souliot dan anak-anak mereka telah terbunuh di gunung Zalongo. Dalam suatu tindakan yang kemudian dikenal sebagai Tari Zalongo, para wanita tersebut melemparkan anak-anak mereka dari tebing pertama kali dan diikuti segera oleh mereka setelahnya. Legenda mengatakan bahwa mereka melompat dari tebing sambil menyanyi dan menari.

Banyak karya seni telah didasarkan pada peristiwa tersebut. Seniman Perancis Ary Scheffer menciptakan dua lukisan, dan sebuah monumen telah berdiri di situs Gunung Zalongo sejak 1950 untuk memperingati pengorbanan tersebut. The Dance of Zalongo juga merupakan lagu rakyat yang populer dan tarian itu dipraktekkan di seluruh Yunani sampai hari ini.

3. Demmin

bunuh diri massal

Pada tanggal 1 Mei 1945, sekitar 1.000 warga dari kota Demmin di Jerman melakukan tindakan bunuh diri massal. Peristiwa ini terjadi setelah tentara Rusia mulai masuk dan menjarah kota tersebut. Demmin terletak antara Peene dan sungai Tollense.

Setelah Rusia memukul mundur Nazi, panggilan kemudian datang dari komando tinggi Nazi untuk meledakkan jembatan, untuk menghambat laju tentara Rusia, tetapi pada gilirannya mengubur warga Demmin di dalam batas kota tanpa jalan apapun untuk melarikan diri. Mereka terdampar, tidak dapat meninggalkan kota dan terpojok oleh penjajah mereka yang baru, Rusia.

Korban invasi mengklaim bahwa setelah tentara Rusia menemukan sebuah gudang minuman keras, mereka mabuk, menjadi marah dan mulai memperkosa serta menjarah seluruh kota. Siapa pun yang mencoba untuk menghentikan aksi ditembak dengan darah dingin. Akhirnya, Rusia membakar kota dan dua-pertiga dari kota habis terbakar. Karena kota dibakar, antara 1,200-2,500 penduduk Demmin melakukan bunuh diri – Beberapa catatan bahkan menunjukkan bahwa para ibu melemparkan anak-anak mereka ke sungai yang membeku sebelum mereka sendiri melompat.

2. Masada

bunuh diri

Masada adalah benteng gunung yang menghadap Laut Mati dan menjadi setting dari salah satu adegan paling mengerikan di dunia yang pernah ada. Penggalian arkeologi Masada pada tahun 1960 dianggap penggalian terbesar sejak penemuan makam Tutankhamen.

Jadi apa yang begitu istimewa tentang Masada? Pada tahun 73 M, komunitas Yahudi yang tinggal di sana dikepung oleh tentara Romawi. Dalam apa yang dikenal sebagai tindakan perlawanan luar biasa orang-orang Yahudi, komandan Masada prajurit Elazar Ben-Yair memerintahkan setiap orang untuk membunuh istri dan anaknya sebelum menghunuskan pedang mereka satu sama lain – dimana secara efektif telah mengeksekusi 960 warga. Masada memiliki tempat dalam cerita rakyat Yahudi dan masih digunakan sebagai tempat bersumpah tentara baru Israel sampai saat ini.

Mengingat bahwa ini terjadi 2.000 tahun yang lalu, kebenarannya masih diragukan. Penggalian pertama terjadi pada 1963-1965, yang dilakukan oleh Profesor Yigael Yadin – seorang arkeolog dan mantan kepala staf tentara Israel. Dia melaporkan mitos tersebut sebagaimana yang dipercayai: suatu tindakan heroik menyangkal kemenangan Roma dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Tapi pada 1990-an, penggalian lain memberi bukti yang bertentangan: Beberapa kerangka manusia dalam kompleks terungkap sebagai tentara Romawi (terdapat rambut yang dipotong dari kulit kepala mereka seperti yang umum dilakukan pada para tawanan), dan pengepungan dihipotesa dilakukan selama enam minggu bukan setahun seperti yang dilaporkan sebelumnya. Faktanya adalah, tidak ada yang akan pernah benar-benar tahu apa yang terjadi, dan mitos Masada, banyak, akan selalu menjadi misteri.

1. The 47 Ronin

bunuh diri

Kisah 47 Ronin sudah mendarah daging dalam budaya Jepang. Tapi tidak seperti kisah-kisah Aesop atau Grimm Bersaudara, yang satu ini benar adanya.

Selama era Tokugawa, Jepang diperintah oleh seorang pejabat militer yang dikenal sebagai shogun. Di bawah shogun ada beberapa penguasa daerah, yang disebut daimyo, masing-masing memiliki pasukan kecil samurai. Untuk menjadi seorang samurai adalah dengan menerima kode bushido atau “jalan prajurit” – termasuk, kepentingan negara di atas segalanya, loyalitas hanya pada seorang majikan dan penolakan untuk takut mati.

Pada tahun 1701, Kaisar Higashiyama (yang hanya memegang peran seremonial di bawah kekuasaan shogun) mengirimkan beberapa utusan dari singgasananya di Kyoto ke pengadilan shogun di Edo (sekarang adalah kota Tokyo). Kira Yoshinaka, salah satu pejabat shogun, mengawasi acara tersebut, memberikan dua daimyo muda (Asano Naganori dari Ako dan Kamei Sama dari Tsumano) tugas menjaga utusan kaisar.

Untuk alasan yang tidak diketahui, Kira sangat tidak menyukai Asano dan Kamei, dan ia selalu mengganggu seluruh pekerjaan mereka. Sementara Kamei tidak pernah terpancing, Asano adalah cerita yang berbeda. Ketika Kira menyebut Asano “orang udik tanpa sopan santun,” itu menjadi pertengkaran terakhirnya. Ia kemudian menghunus pedangnya pada pejabat shogun tersebut dan terjadilah perkelahian. Masalahnya, bagaimanapun, tidak berakhir sampai disini. Asano, melanggar hukum yang ketat yaitu dengan menarik pedang dalam istana Edo. Ia diperintahkan untuk mengambil nyawanya sendiri dalam tindakan samurai yang dikenal sebagai seppuku: mengeluarkan isi perutnya sendiri dengan pisau pendek.

Kira tidak berhenti sampai di situ. Ia mengambil alih tempat tinggal Asano, mengusir keluarganya, dan mengurangi pasukan samurainya hingga menjadi status ronin (“tak bertuan”). Terlepas dari kenyataan dekrit bushido dimana samurai tak bertuan harus mengakhiri hidup mereka sendiri karena aib tidak melindungi tuannya, 47 dari 320 prajurit menolak untuk melakukan bunuh diri. Sebaliknya mereka mengasingkan diri, dan menunggu waktu yang tepat untuk membalas kematian tuannya.

Dua tahun kemudian, para ronin berkumpul dan menyusup ke tempat tinggal Kira. Di tengah malam mereka menyerbu, membunuh 40 penjaganya tanpa satu pun ronin yang mati dalam pertempuran tersebut. Mereka menemukan Kira bersembunyi di gudang batubara dan memerintahkan dia untuk melakukan bunuh diri dengan cara yang sama seperti Asano lakukan. Ia menolaknya dan pemimpin ronin memenggal Kira saat itu juga.

Setelah serangan, para ronin berbaris ke Kuil Sengakuji di mana Asano dimakamkan dan mempersembahkan kepala Kira pada majikan mereka yang telah tiada itu. Tak lama, berita penyerangan menyebar di seluruh negeri, dan para ronin diperintahkan untuk melakukan bunuh diri. Mereka memenuhinya, melakukan seppuku massal di sana di kuil tersebut.

Comments

comments

 

 

Previous post:

Next post: