10 Fakta Menakjubkan Tentang Gunung Berapi

January 31, 2014

Gunung berapi, utusan api kematian dan kehancuran dari dalam planet ini. Meskipun bencana alam seperti tornado dan tsunami sangat mengerikan, gunung berapi memiliki kekuatan unik seolah-olah berasal dari neraka. Tentu saja, gunung berapi lebih dari sekedar gunung yang memuntahkan lahar panas – mereka telah menjadi bagian utama dalam budaya kita dan membentuk tanah tempat tinggal kita saat ini.

10. Burung Gunung Berapi

gunung berapi

Tidak semua makhluk hidup berpikir gunung berapi sebagai sebuah instrumen kehancuran. Ada salah satu spesies burung yang sangat aneh yang bergantung pada gunung berapi untuk bertahan hidup. Maleo adalah spesies yang terancam punah yang bergantung pada energi panas bumi untuk menetaskan telur-telurnya. Selama musim bersarang, maleo secara khusus mencari daerah vulkanik dan menggunakan hawa panasnya untuk menetaskan telur. Mereka melakukan hal ini karena telur mereka begitu besar – sekitar lima kali ukuran telur ayam – dimana sang betina, yang hanya seukuran bebek kecil, tidak akan memiliki kesempatan untuk menginkubasi telur-telurnya sendiri.

9. Lahar Hitam Gunung Berapi

gunung berapi

Ol Doinyo Lengai adalah nama dari gunung berapi paling aneh di dunia. Gunung berapi Tanzania ini cukup mengesankan dalam ukuran dan penampilan, dengan ketinggian 2.200 meter (7.200 kaki) dan menjulang di atas padang rumput di sekitarnya. Namun, kekuatan sejati terletak pada laharnya.

Ol Doinyo Lengai adalah satu-satunya gunung berapi di dunia yang meletuskan “lahar hitam” seperti lumpur, tidak seperti gunung berapi pada umumnya. Ahli geologi sering membandingkan lahar ini untuk sesuatu yang anda mungkin temukan di planet lain. Lahar Ol Doinyo Lengai jauh lebih dingin dari lahar pada umumnya – sekitar 540°C (1.000°F). Lahar ini dapat menjadi dingin ketika di udara, dan jatuh ke tanah seperti pecahan kaca. Dan karena merupakan gunung berapi yang sangat aktif (meskipun relatif tidak berbahaya), para ahli bersedia untuk membuat perjalanan sulit untuk melihat pemandangan air mancur, kolam dan konstruksi lahar hitam.

8. Dewa Gunung Berapi

gunung berapi

Gunung berapi sering dikaitkan dengan keilahian. Banyak budaya yang hidup di daerah vulkanik telah menyembah dewa gunung berapi, mungkin dewa yang paling terkenal adalah Vulcan. Dia adalah pandai besi para dewa Romawi, dimana ia menempa di pulau vulkanik Vulcano, tempat dimana gunung berapi diberi nama. Vulcan pada dasarnya merupakan pengemasan ulang Hephaistos, dewa api dan keterampilan dalam sejarah Yunani.

Para penduduk Hawai, yang tinggal di salah satu daerah vulkanik paling aktif di dunia, menyembah Pele, dewa gunung berapi, sebagai salah satu dewa utama mereka. Menurut mereka, pertarungan antara Pele dan kakaknya, Namakaokahai, telah memunculkan gunung berapi, dan Pele dapat memerintahkan gunung berapi tersebut sesuai kehendaknya. Penduduk asli Amerika memiliki legenda serupa tentang duel para dewa – beberapa pencipta gunung berapi mereka disebut Llao dan Skell, sementara berbagai suku memiliki legenda lainnya.

Mungkin legenda yang membuat kita penasaran tentang pemujaan gunung berapi berasal dari kerajaan Aztec, di mana gunung berapi besar kembar yaitu Popocatepetl dan Iztaccihuatl benar-benar diperlakukan secara manusiawi. Aztec membangun patung gunung berapi dengan wajah manusia dan memperlakukan mereka dengan rasa hormat yang sama dengan yang dilakukan kepada raja manusia atau orang suci. Praktek ini bahkan berlanjut hingga hari ini. Gunung yang besar yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Gregorio biasanya digambarkan sebagai seorang pria besar dengan rambut panjang, pirang, dan bergelombang.

7. Index Letusan Gunung Berapi

gunung berapi

Index Letusan Gunung Berapi diciptakan pada tahun 1982 untuk menggambarkan kerusakan yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi. Indeks ini dibuat pada skala nol sampai delapan. Letusan pada skala nol sampai dua adalah kejadian sehari-hari atau mingguan, dan kategori tiga letusan, peringkat “keras”, dengan ketinggian letusan mencapai 15 kilometer (9.32 mil) dan terjadi setiap tahun.

Kategori empat dan lima terjadi setiap beberapa dekade atau abad. Kekuatan destruktif mereka adalah bencana dan debu mereka dapat mencapai ketinggian 25 kilometer (15,53 mil) atau lebih. Kategori enam dan tujuh disebut “kolosal” dan “super-kolosal.” Pada kategori ini, gunung berapi yang terlibat biasanya berukuran raksasa dan meletus seperti ledakan bom bertubi-tubi – letusan mereka menyebabkan tsunami, melemparkan batu panas sejauh ratusan mil jauhnya, dan menutup langit dalam abu. Ledakan yang luar biasa kuat dari Gunung Krakatau pada tahun 1883, yang menewaskan 36.000 orang dengan melibatkan tsunami dan trauma termal, adalah termasuk kategori enam.

Kategori delapan atau “mega-kolosal” adalah ledakan dengan sedikitnya 100 kali lebih kuat dari Krakatau dan dapat menciptakan kaldera seukuran sebuah negara kecil. Untungnya, tidak ada letusan yang terjadi dalam sejarah umat manusia. Letusan kategori 8 pernah terjadi di Yellowstone (640.000 SM), Toba (74.000 SM), dan Taupo (24.500 SM), serta beberapa lokasi lain di seluruh dunia.

6. Jenis-jenis Gunung Berapi

gunung berapi

Banyak orang berpikir bahwa gunung berapi adalah gunung yang memuntahkan magma, sesederhana itu. Namun, ada tiga jenis yang berbeda dari gunung berapi, serta fenomena yang sering dianggap sebagai tipe keempat. Dari tiga jenis gunung berapi klasik ini – jenis kerucut sinder adalah apa yang kebanyakan orang pikirkan ketika mereka membayangkan gunung berapi – gunung berongga dengan atas terbuka dan lubang lava. Tipe kedua, gunung berapi komposit, curam, berbentuk simetris dibangun dari beberapa lapisan ventilasi lahar, abu, dan material lain yang selama letusan, sering membentuk bom besar yang terbang di udara. Tipe ketiga, gunung berapi perisai, yang paling sering ditemukan di Hawaii. Mereka adalah gunung yang relatif datar dan dapat membentang sejauh 160 kilometer (100 mil). Bagian dalam gunung berapi tipe perisai hampir seluruhnya terdiri dari aliran lahar yang besar.

Tipe keempat tidak selalu dikategorikan sebagai gunung berapi sama sekali. Ini adalah fenomena aneh yang disebut kubah lahar. Kubah ini adalah kumpulan besar dari lahar tebal, yang setelah letusan, tertangkap di sebuah lembah atau kaldera dan tidak dapat mengalir jauh. Sebaliknya, lahar berkumpul menjadi sebuah kubah besar yang perlahan-lahan mendingin dari luar. Meskipun ini tampaknya relatif tidak berbahaya, pembentukan kubah lahar kadang disertai dengan letusan eksplosif yang besar.

5. Kawah Ijen

gunung berapi

Ijen merupakan stratovolcano aktif di pulau Jawa. Karena aktivitas vulkanik yang tinggi, stratovolcano ini memiliki konsentrasi sulfur yang padat, dan telah memberikan sumber pendapatan tetap untuk wilayah sekitarnya dari pertambangan. Namun tempat ini juga telah menjadi salah satu danau paling mengerikan di dunia.

Kawah gunung ini terisi oleh air, disebut sebagai Kawah Ijen, dan merupakan danau asam terbesar di dunia. Seluruh danau telah tercemar belerang, mengubahnya menjadi asam sulfat mematikan. PH air danau adalah 0,5, membuat isinya seperti air accu. Danau akan menggerogoti hampir apa saja, termasuk logam. Asapnya juga mematikan, membuat sulit bernafas bahkan dengan masker gas.

Karena danau ini, letusan dari Ijen dianggap sangat berbahaya. Bukan saja akan mengakibatkan hujan asam, namun pengeringan danau ini akibat letusan dapat menimbulkan lahar yang sangat merusak.

4. Paricutin

gunung berapi

Gunung berapi sangat menakutkan karena mereka dapat muncul dalam sekejap. Sebuah contoh utama dalam hal ini adalah gunung berapi Paricutín di Meksiko. Pada tahun 1943, petani mulai mendengar suara-suara gemuruh yang aneh dan menemukan celah panjang di dalam tanah. Mereka tidak terlalu khawatir pada awalnya. Namun, suara-suara yang terjadi semakin dalam, keretakan semakin melebar, dan bumi mulai terangkat. Dalam beberapa jam, tanah mulai mengeluarkan batuk sulfur dan abu. Gunung berapi telah lahir dalam semalam.

Meskipun awalnya memiliki ketinggian tidak lebih dari 1,8 meter (6 kaki), Paricutín tumbuh dengan pesat. Hanya 24 jam kemudian, tingginya adalah 50 meter (165 kaki). Enam hari kemudian, itu menjadi dua kali lipat dan sepanjang waktu mengeluarkan lava. Meskipun gunung berapi ini relatif kecil, namun daerah sekitarnya, termasuk kota terdekat San Juan, secara perlahan mulai teraliri oleh lahar, dan penduduk setempat harus melarikan diri.

Sementara itu, Paricutín mulai dikenal di dunia karena kemunculannya yang tiba-tiba. Ahli geologi dan turis berbondong-bondong untuk mengamati gunung api muda ini. Mereka memiliki banyak waktu untuk melihat aktivitas Paricutin karena gunung ini terus-menerus meletus selama sembilan tahun. Pada saat letusannya mereda, laharnya telah menutup daerah seluas 25,9 kilometer persegi (10 mil persegi), merubah daerah tersebut menjadi lahan pertanian yang subur.

3. Mauna Kea And Mauna Loa

gunung berapi

Ketika membahas gunung berapi, raksasa Mauna Kea dan Mauna Loa harus disebutkan. Mereka adalah gunung berapi perisai besar yang menakutkan, menjulang tinggi di atas pulau Hawaii. Bahkan, saking besarnya mereka sehingga membentuk sebagian besar dari Hawaii.

Dari 2 gunung tersebut yang tertinggi yaitu Mauna Kea, dengan ketinggian 4,205 meter (13.795 kaki) di atas permukaan laut. Namun gunung ini banyak memiliki massa bawah air, sehingga bila diukur dari dasar laut, Mauna Kea memiliki ketinggian lebih dari 9.000 meter (29.500 kaki), menjadikannya gunung berapi tertinggi di dunia, mengalahkan Gunung Everest yang memiliki ketinggian 8.850 meter (29.035 kaki). Mauna Kea sudah tidak aktif namun masih menyimpan kemegahan. Ia menjadi monumen keagungan alam dan resor ski yang mengagumkan.

Sebaliknya Mauna Loa adalah gunung berapi yang sangat aktif. Meskipun hanya memiliki tinggi 4.170 meter (13.680 kaki), kalah tinggi dibanding Mauna Kea, namun Mauna Loa jauh lebih besar, dengan luas hampir separuh pulau Hawaii. Dengan panjang 96,5 kilometer (60 mil) dan lebar 48 kilometer (30 mil), menjadikan gunung ini sebuah pemandangan yang datar. Mauna Loa telah meletus sebanyak 39 kali. Letusan yang terakhir adalah pada tahun 1984, dan gunung berapi ini menunjukkan tanda-tanda untuk bangun sekali lagi.

2. Gunung Berapi Lumpur

gunung berapi

Pada tanggal 24 September 2013, gempa 7,7 skala Richter mengguncang dasar laut di dekat Pakistan. Beberapa jam kemudian, muncul sebuah pulau baru di laut. Pulau berbentuk oval dengan diatemer 91 meter (300 kaki) datang entah dari mana, namun itu hanyalah awal – pulau ini juga memancarkan gas yang mudah terbakar, sehingga berbahaya untuk dieksplorasi.

Pulau ini diciptakan oleh kemunculan yang tiba-tiba dari gunung berapi lumpur, yaitu sejenis gunung berapi yang memuntahkan lumpur panas bukannya lahar biasa. Karena gunung berapi berada di dasar laut, lumpur segera didinginkan oleh air dan membentuk sebuah pulau.

Para ilmuwan masih mencoba untuk mencari tahu penyebab fenomena alam ini. Beberapa ahli berpikir mungkin ada kegiatan vulkanik atau tektonik lainnya yang terlibat, namun penduduk setempat memiliki pendapat tersendiri. Menurut mereka, sebuah pulau serupa yang disebut Zalzala Koh (Quake Hill) ada 60 atau 70 tahun yang lalu. Zalzala Koh akhirnya menghilang ke laut, tapi sekarang mereka mengatakan gempa akhirnya membawanya kembali.

1. Efek Pada Iklim

gunung berapi

Efek jangka pendek dari gunung berapi adalah hujan api, sungai magma, panik dan teriakan – dampak yang cukup menakutkan, tapi mereka akan lebih pucat dibandingkan dengan efek jangka panjangnya. Bahkan, diperkirakan bahwa proses alam seperti letusan gunung berapi bisa menjadi pengaruh utama pada perubahan iklim.

Ada tiga jenis utama dari efek-efek yang dapat menyebabkan perubahan iklim: Efek ozon (dimana sinar matahari memecah oksigen ke ozon di stratosfer, memungkinkan untuk membelokkan sinar ultraviolet dari matahari), Efek rumah kaca (di mana gas rumah kaca terjebak di atmosfer dan menyebabkan pemanasan global), dan efek kabut (di mana debu dan abu partikel terjebak di atmosfer, menghalangi sinar matahari dan menyebabkan pendinginan global). Aktivitas vulkanik dapat sangat berkontribusi dari masing-masing efek ini – letusan vulkanik akan melepaskan asam yang menghancurkan ozon, sejumlah besar karbon dioksida, gas rumah kaca yang terkenal, dan abu. Karena jumlah abu yang mereka muntahkan, maka dampak terbesarnya adalah efek kabut. Anehnya, ini berarti bahwa ledakan vulkanik yang cukup besar dan berapi-api tersebut justru benar-benar dapat mendinginkan planet bukannya memanaskan.

+ Jeritan Gunung Berapi

gunung berapi

Gunung berapi pada dasarnya adalah menakutkan, tetapi gunung berapi Redoubt di Alaska telah menimbulkan ketakutan ke tingkat yang baru di tahun 2009 – tepat sebelum meletus, gunung tersebut mulai menjerit.

Jeritan tersebut dimulai dari suara gemuruh dari dalam yang sangat besar hingga naik ke atas menjadi crescendo yang menakutkan.

Parahnya, para ahli tidak yakin apa yang menyebabkan suara tersebut. Tentu saja, mereka memiliki berbagai teori tentang gas dan regangan tektonik, namun mereka tidak pernah berani menyatakannya secara resmi.

Comments

comments

 

 

Previous post:

Next post: