8 Tradisi Religius yang Paling Aneh di Dunia

September 14, 2013

1. Menjatuhkan bayi dari menara untuk keberuntungan (India)

tradisi religius

Selama 500 tahun, pemuja pada mesjid di India barat telah secara terus menerus melanjutkan tradisi menjatuhkan bayi dari menara setinggi 50 kaki untuk keberuntungan.

Bayi dibawa ke puncak bangunan, dilempar ke bawah menuju seprei ranjang yang dipegang oleh para pria yang berada di bawah, dan secara cepat dioper melalui penonton kepada ibunya. Para orang tua dengan bangganya menjatuhkan anak mereka dikarenakan kepercayaan yang kuat bahwa praktek ritual ini memberkati keturunan mereka dengan kesehatan yang baik, keberuntungan, keberanian, dan kekuatan yang panjang umur.

Perayaan tahunan ini dilakukan oleh para orang Muslim dan Hindu di Maharashtra, dan juga dirayakan di desa-desa kecil di seluruh negara India.

Memang jika bayi anda dilempar dari menara setinggi 50 kaki dan selamat, seseorang bisa berasumsi bahwa bayi tersebut memang beruntung.

2. Tindik menggunakan kail tajam (India)

tradisi religius

“Garudan Thookkam” adalah sebuah ritual seni yang dilakukan di kuil Kali, di India selatan. Orang-orang yang berkostum sebagai Garuda (salah satu dewa Hindu) melakukan tarian, dan setelah pertunjukan, punggung para orang-orang yang membaktikan diri kepada agama Hindu tersebut ditusuk menggunakan kail tajam. Para lelaki lalu diangkat dari bawah menuju ke panggung menggunakan tali, terkadang dengan bayi ditangan mereka dan dibawa keliling kuil sebagai persembahan kepada para dewa.

3. Memutilasi tubuh orang mati dan menyebarkannya di puncak gunung (China)

tradisi religius

Pemakaman langit adalah praktek pemakaman di Tibet dimana tubuh manusia dimutilasi di lokasi tertentu lalu ditempatkan di puncak gunung, memamerkan kepada elemen dan hewan terutama burung-burung predator.

Kebanyakan orang Tibet mengikuti tradisi Budha, dimana dinyatakan bahwa tubuh manusia hanyalah sebuah tempat dan bisa dibuang. Praktek ini akhirnya dilarang, tapi masih bisa dilakukan dengan ijin dari sang keluarga.

4. Dirasuki dan kejang-kejang (Haiti)

tradisi religius

Pemuja voodoo mempercayai bahwa sangatlah penting untuk menghormati dan peduli terhadap arwah-arwah, dan dipercaya bahwa mereka akan semakin melemah dengan berjalannya waktu dan bergantung kepada manusia untuk bertahan hidup. Ritual dan kurban digunakan untuk memulihkan mereka. Dalam kata lain, hewan yang dikurbankan akan berpindah kepada arwah.

Tradisi ini dilakukan untuk berterima kasih kepada dewa yang disebut “Loa”. Sebuah hewan seperti ayam yang sudah disucikan, akan dikurbankan untuk menyenangkan Loa, yang disokong oleh energi kehidupan yang diberikan ketika pengurbanan.

Sewaktu upacara, para pemuja bisa dirasuki oleh Loa. Loa akan memegang kontrol penuh terhadap individu yang dirasukinya dan akan memberikan nasihat, menyembuhkan dan memberikan ramalan kepada para pemuja. Orang yang dirasuki akan mengalami kejadian yang kasar, dimana orang tersebut akan mengalami kejang-kejang sebelum terjatuh ke bawah.

5. Membabtis orang mati

tradisi religius

Pembabtisan untuk orang mati adalah tradisi kaum Mormon yang membabtis seseorang sebagai perwakilan orang yang telah meninggal. Dalam kata lain, seseorang yang masih hidup menerima ordonansi sebagai perwakilan orang yang telah meninggal.

Kaum Mormon percaya bahwa kepala biara mereka memiliki misionari di dunia para arwah yang sibuk menyebarkan ajaran Mormon kepada orang mati yang belum menerima ajaran tersebut. Jika ada dari orang mati tersebut yang mau mengikuti ajaran Mormon, mereka diwajibkan untuk mematuhi semua aturannya yang salah satunya adalah dibabtis.

6. Tidak mengenakan pakaian dan menggunakan kemoceng dari bulu merak (India)

tradisi religius

Penampilan luar dipandang oleh kaum Digambaras sebagai index pemahaman kepada doktrin, sehingga seorang biarawan sejati haruslah benar-benar telanjang. Dia harus meninggalkan semua kepemilikannya dan tidak lagi memikirkan malu dan harga diri. Biarawan tersebut minum dari labu dan mengemis untuk makanannya. Dia hanya boleh makan satu kali dalam sehari.

Sesuai dengan ajaran hidup tanpa kekerasan, biarawan juga menggunakan kemoceng yang terbuat dari bulu merak untuk membersihkan jalan yang akan mereka lalui dari serangga-serangga sehingga mereka tidak menginjaknya.

Karena para wanita tidak diperkenankan untuk telanjang, Digambaras mempercayai bahwa para wanita tidak bisa mencapai tingkatan pelepasan yang dibutuhkan untuk mendapatkan kebebasan. Oleh karena itu, para wanita harus dilahirkan kembali sebagai lelaki untuk mencapai pembebasan.

7. Berguling-guling diatas sisa makanan yang telah disantap oleh Brahmin (India)

tradisi religius

Tradisi ini sudah berumur 400 tahun, dimana orang-orang berguling-guling diatas daun yang berisi sisa makanan yang telah dikonsumsi oleh Brahmin dengan kepercayaan bahwa semua masalah dan penyakit akan disembuhkan.

Pemerintah Karnataka memberitahu pengadilan tinggi bahwa mereka telah memutuskan untuk memodifikasi praktek kontroversial di kuil Kukke Subramanya. Mulai dari sekarang, makanan yang belum dicoba dan dimakan oleh siapapun akan ditempatkan di atas daun di pekarangan luar tempat suci.

8. Masturbasi dan melakukan seks secara grup

tradisi religius

Sebuah grup terselubung di area Seattle, Amerika mempraktekkan tradisi Pagan untuk menenangkan arwah kesuburan melalui ritual seks yang dipraktekkan di Timur tengah kuno sekitar 1500 tahun yang lalu.

Para arwah tidak bisa menikmati sensasi orgasmik melalui tubuh semu mereka, tapi mereka bisa merasakan kenikmatan manusia melalui ritual ini. Para individu yang melakukan praktek ini melakukan heteroseksual dan homoseksual secara bersamaan di ruangan yang sama, dengan tujuan mencapai klimaks bersama sehingga orang-orang tersebut bisa menjaga hubungan baik dengan arwah dan diberkati. Arwah-arwah tersebut juga bisa ditenangkan melalui masturbasi tanpa hubungan seksual.

Comments

comments

 

 

Previous post:

Next post: