Minimalkan Resiko Kecelakaan dengan Kantung Udara

March 26, 2014

kantung udara

Alat ini akan menggelembung dengan cepat saat mobil terkena benturan. Inilah kantung udara atau airbag. Kantung udara ini biasanya terdapat pada kemudi, dasbor, pintu, atau bagian atas kabin. Tujuannya adalah menjaga agar pengendara atau penumpang tidak terkena benturan langsung dengan bodi mobil. Jadi, ketika terjadi kecelakaan, risiko cedera pengendara atau penumpang akan berkurang berkat gelembung udara yang menopang pengendara.

Umumnya, kantung udara terbagi menjadi kantung udara depan dan samping. Kantung udara depan melindungi pengendara mobil ketika terjadi benturan dengan bagian depan mobil. Kantung udara samping memproteksi benturan yang berkaitan dengan sisi samping kendaraan. Kantung udara ini akan mengembang secara otomatis berdasarkan sensor yang bisa mendeteksi ukuran penumpang atau pengendara, posisi duduk, pemakaian sabuk pengaman, dan kecelakaan yang terjadi.

Kantung udara sebenarnya bukan barang baru. Pada dekade 1950-an, perangkat serupa kantung udara telah diperkenalkan oleh Walter Linderer dari Jerman. Disusul penemuan serupa oleh John Hedrik dari Amerika. Meskipun demikian, pemegang paten utama dalam penemuan kantung udara adalah Allen Breed. Namun, kelemahan kantung udara pada masa itu adalah lambatnya proses penggelembungan.

Perkembangan pemanfaatan kantung udara semakin meningkat pada dekade 1970-an. Saat itu, Ford dan General Motors mulai menambahkan kantung udara pada mobil-mobil produksinya. Akan tetapi, desain kantung udara pada awal mula pengembangannya ini dianggap masih belum sempurna. Perbaikan kantung udara dilakukan pada mobil-mobil keluaran 1980-an.

Sejak dekade 1990-an, standar pengamanan dalam mobil dengan kantung udara mulai diterapkan oleh sejumlah negara seperti Amerika Serikat. Kini juga mulai ditemukan kantung udara yang digunakan untuk meliputi seluruh bagian mobil ketika terjadi kecelakaan. Namun, belum banyak merek mobil yang mengembangkan kantung udara jenis ini.

Sebenarnya sebutan untuk kantung udara cukup banyak. Di antaranya adalah Supplementary Restraint System (SRS), Supplemental Inflatable Restraint (SIR), dan Air Cushion Restraint System (ACRS). Meskipun mempunyai beragam sebutan, prinsip kerjanya tidak jauh berbeda.

Ketika terjadi benturan kecelakaan atau tabrakan, sensor pada mobil akan mengirimkan sinyal yang memicu airbag mengembang dalam hitungan detik. Kantung udara ini akan menahan pengendara dari benturan dengan dasbor, kemudi, atau bagian dalam mobil lainnya.

Biasanya sensor benturan ini terdapat pada bagian depan mobil, kantung udara, dan bagian pintu. Setelah mengembang karena terjadi benturan, gelembung kantung udara akan mengempis dengan sendirinya. Saat kantung udara mengempis, pengendara bisa keluar dari mobil.

Meskipun tersedia kantung udara di dalam mobil Anda, sebaiknya jangan hanya mengandalkan alat ini, Bagaimanapun juga, Anda tetap perlu mengenakan sabuk pengaman. Sebagai catatan, kantung udara mampu melindungi pengendara mobil dari benturan. Namun, alat ini tidak bisa mencegah pengemudi terlempar keluar dari mobil bila terjadi kecelakaan. Selain itu, perilaku berkendara yang hati-hati diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan.

Fakta tentang Kantung Udara

Berikut ini merupakan fakta-fakta penting tentang pemanfaatan kantung udara menurut sejumlah riset di Amerika Serikat.

  • Jika semua mobil dilengkapi kantung udara, risiko fatal akibat kecelakaan kendaraan bermotor bisa berkurang, dan diperkirakan sekitar 3.000 nyawa bisa diselamatkan setiap tahunnya.
  • Kecelakaan yang berakibat fatal bisa terjadi karena penumpang tidak mengenakan sabuk pengaman meskipun mobil telah dilengkapi kantung udara. Jadi, pengamanan berkendara dengan menggunakan kantung udara dan sabuk pengaman tetap disarankan.
  • Kantung udara dapat mengurangi angka kematian akibat kecelakaan frontal sebanyak 26 persen untuk pengemudi yang menggunakan sabuk pengaman. Sementara itu, jika pengemudi lalai menggunakan sabuk pengaman, kantung udara dapat meminimalkan risiko fatal akibat kecelakaan sebanyak 32 persen.
  • Perlu diperhatikan, sebaiknya pengemudi menghindari duduk terlalu dekat dengan kemudi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko syok atau penekanan dari penggelembungan kantung udara secara tiba-tiba.
  • Jarak antara pengemudi dan kemudi paling tidak sekitar 10 inci atau 25 sentimeter. Jarak ini diperlukan sebagai ruang untuk penggelembungan kantung udara ketika terjadi benturan.

Comments

comments

 

 

Previous post:

Next post: