Top 10 Alasan Para Pasangan Bercerai

May 30, 2013

Bagaimana bisa sepasang manusia bercerai ketika mereka pernah mengucapkan “kita akan bersama selamanya sampai maut memisahkan kita!”. Ucapan tersebut adalah sumpah klasik dimana dua jiwa yang sedang dimabuk cinta memantapkan kaki bersama-sama untuk mengarungi bahtera kehidupan menuju kebahagiaan dunia akhirat.

Pernikahan adalah sebuah kemitraan yang kompleks. Perlu usaha terus menerus untuk membina kemitraan tersebut. Kadang-kadang anda didorong menghantam dinding sementara pada lain waktu anda berjalan dengan mudahnya. Sama halnya seperti kehidupan, pernikahan juga memiliki pasang surut dan anda tidak pernah tahu apa yang akan menimpa di depan. Perceraian dan perpisahan tentu bukan cara terbaik untuk menangani masalah perkawinan, namun seringkali terjadi. Apakah yang menjadi alasan para pasangan tersebut bercerai? Marilah bersama-sama mencari tahu dibawah ini dalam top 10 alasan perceraian.

1. Prioritas Konflik

bercerai

Pasangan terbentuk ketika dua individu yang berbeda bersatu. Kita mengetahui dengan baik bahwa tidak ada dua individu yang identik, bahkan sangat besar perbedaan antara jenis kelamin yang berlawanan. Meskipun seseorang dapat menaruh perhatian tentang beberapa masalah sebelum memasuki jenang pernikahan, namun tidak mungkin mengantisipasi situasi yang mungkin timbul di kemudian hari. Pada saat itu, reaksi dan pandangan dari dua orang mungkin sepenuhnya bertentangan. Istri mungkin masih ingin menghidupi keluarganya setelah menikah sementara suami mungkin ingin dia memfokuskan semua sumber daya ke arah keluarganya sendiri. Anda tidak pernah tahu apa yang bisa memicu badai tersebut. Namun seharusnya semua masalah bisa dikompromikan dibanding mengambil keputusan untuk bercerai.

2. Alkohol

bercerai

Salah satu alasan besar perceraian adalah alkohol. Ketika konsumsi alkohol menjadi sebuah kecanduan, maka dengan segera akan berubah menjadi kutukan bagi pernikahan apapun. Alkohol bukan hanya mengakibatkan keruntuhan seseorang secara fisik dan finansial tetapi juga melemparkan malapetaka pada hubungan. Hubungan yang menjurus kasar sering menjadi efek samping dari kecanduan alkohol. Seorang pecandu alkohol dapat membahayakan keluarga terutama ketika ada anak-anak di sekitar dan lama kelamaan akan menggerogoti hubungan pernikahan. Oleh karenanya, alkohol sering menjadi penyebab untuk pasangan bercerai.

3. Latar Belakang yang Berbeda

bercerai

Cinta antara 2 individu dalam sebuah pernikahan dengan perbedaan latar belakang atau status sosial sering menjadi alasan pasangan bercerai. Sesuatu yang mendasar seperti kebiasaan makan dapat menjadi bara api yang mengarah ke sebuah ledakan. Satu individu yang vegetarian mungkin tidak bisa duduk bersama dengan individu yang non vegetarian ketika ada makanan non vegetarian disajikan. Sepertinya sepele namun seiring waktu dapat menjadi penyebab gesekan antara pasangan.

4. Masalah Mengurus Anak

bercerai

Seringkali seluruh tanggung jawab dalam mengurus anak jatuh pada istri. Setelah mengandung selama sembilan bulan serta melalui perubahan emosional dan fisik selama kelahiran anak, mungkin menjadi penyebab kekhawatiran istri jika suami tidak berbagi tanggung jawab sebagai orangtua. Hal ini terlihat bahwa pria sering menyediakan kebutuhan anak-anaknya dan mencari nafkah untuk keluarga sebagai tanggung jawab mereka. Tapi itu tidaklah cukup, seorang ayah perlu mengambil bagian yang sama dalam segala hal yang berkaitan dengan anak. Ingat perkawinan adalah kemitraan, bukan hubungan sepihak.

5. Perbedaan agama

bercerai

Ketika seseorang terkena busur Cupid, maka semua perbedaan menghilang. Agama, entah itu sama atau berbeda, tampaknya tidak harus menjadi masalah jika pasangan belajar untuk menghormati keyakinan masing-masing. Pasangan dapat masuk ke jenjang pernikahan setelah membicarakan semua pro dan kontra, namun sesuatu yang tidak terduga bisa muncul dan dapat menyebabkan pernikahan di ambang perceraian. Anda merayakan festival agama yang berbeda, namun jika anda tidak memperlakukan pasangan anda sama pentingnya maka sesuatu dapat menjadi salah penafsiran. Tapi sekali lagi pada tahap ini kita perlu kembali melihat perasaan cinta yang membawa mereka akhirnya memutuskan untuk menikah, bukannya menyerah.

6. Kehilangan Pesona

bercerai

Pesona sebuah hubungan mungkin memudar seiring berjalannya waktu dan ketika tanggung jawab bertambah. Sementara kebanyakan pasangan dapat melalui fase tersebut, namun untuk beberapa pasangan sifat-sifat yang monoton dapat menjadi penyebab utama kegelisahan dan akhirnya bercerai. Dalam kasus seperti ini harus diingat bahwa hal itu terserah kepada suami dan istri untuk menjaga pesonanya sebagai pelengkap hidup. Mereka perlu melakukan upaya untuk membiarkan para pasangannya tahu bahwa betapa pentingnya diri mereka dan membuat acara-acara perayaan dan sukacita.

7. Masalah Keuangan

bercerai

Pada era modern dimana kedua pasangan dapat bekerja dan menjadi mandiri secara finansial, pembagian dan kepemilikan aset bisa menjadi sesuatu hal yang ‘panas’. Distribusi beban keuangan mungkin menjadi sesuatu yang mengarah pada perselisihan perkawinan. Prinsip tidak mengganggu pendapatan masing-masing dan berbagi biaya untuk segala sesuatu bersama-sama dan dengan cara yang tidak menjadi beban, mungkin pilihan yang terbaik. Ingatlah bahwa setiap kali isu-isu keuangan masuk ke dalam suatu hubungan, lebih baik untuk memotong masalah ini langsung di pucuknya.

8. Ketidakpuasan Seksual

bercerai

Salah satu alasan utama pasangan bercerati adalah masalah yang satu ini. Seringkali ketidakcocokan seksual menyebabkan masalah mendalam yang berakar dalam sebuah pernikahan. Sebuah pernikahan, seperti yang telah dikatakan berulang di seluruh dunia, adalah sebuah persekutuan dua individu secara emosional dan fisik. Ini adalah aspek yang sangat penting dari pernikahan apapun dan tidak boleh diabaikan. Oleh karenanya sangat disarankan untuk memiliki komunikasi yang terbuka antara mitra untuk mencari jalan keluar masalah tersebut bersama-sama. Bahkan jika perlu bantuan profesional dihadirkan dibanding mengakhiri pernikahan dalam kasus ini.

9. Penyiksaan

bercerai

Setiap jenis penyiksaan – baik itu fisik, mental atau emosional – dapat menyebabkan benang dari pernikahan putus di tengah. Hanya ada satu titik dimana seseorang, apakah itu suami atau istri, bisa mentolerir dan ketika titik itu tersentuh hampir pasti mengakibatkan perceraian. Sering terlihat bahwa istri diperlakukan dengan tidak baik, bukan hanya oleh suami, bahkan juga mertua. Anda mungkin telah melakukan pembicaraan dan mencoba untuk menyelesaikan masalah namun biasanya mereka tidak melakukannya ketika hal-hal terjadi di luar kendali dan karenanya dalam kasus ini pilihan bercerai lebih baik dibanding menderita secara batin.

10. Ketidaksetiaan

bercerai

Jika ada satu hal yang tak termaafkan oleh sebagian besar pasangan, itu adalah perselingkuhan. Kepercayaan dan cinta adalah dasar dari pernikahan apapun. Ketika hal itu hilang maka sulit untuk mendapatkan kembali bersama-sama. Rekonsiliasi mungkin terjadi, namun jika tidak sebaiknya saling berpisah sebelum merugikan lebih banyak kedua individu. Pernikahan tanpa cinta dan iman hanyalah sebuah kemitraan biasa yang ditakdirkan untuk berakhir pada suatu waktu di masa depan dan karenanya perselingkuhan menjadi alasan no. 1 mengapa para pasangan bercerai.

Comments

comments

 

 

Previous post:

Next post: