Top 10 Ketakutan Terbesar Manusia

September 20, 2014

Ketakutan adalah emosi yang melindungi kita dari ancaman yang ada di lingkungan kita, dan kemudian berkembang menjadi lebih kompleks, bahkan terhadap hal-hal yang aneh dan menggelikan, seperti phobia. Namun phobia tidak akan dibahas disini.

Pada artikel kali ini, kita akan melihat daftar top 10 ketakutan terbesar manusia yang umum dirasakan sepanjang hidupnya.

10. Kehilangan Kebebasan

ketakutan manusia

Sementara definisi yang tepat dari kebebasan dan nilai-nilainya di dalam suatu masyarakat masih merupakan subyek yang diperdebatkan, takut akan kehilangan kebebasan akan selalu hadir dalam pikiran manusia karena, meskipun itu bukan sesuatu yang kita pikirkan setiap saat, namun setiap kali memberikan kita pemikiran yang mendalam dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika kita kehilangan kekuatan untuk mengendalikan hidup kita sendiri. Ketakutan ini dimulai dengan hal-hal yang biasa, seperti waktu saat anda berada di kamar anda sendiri tanpa kemungkinan untuk meninggalkan kamar sampai anda menyelesaikan pekerjaan rumah anda, atau ketakutan ketika kita berkomitmen untuk menikah. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kebebasan yang mutlak adalah yang terbaik bagi kita? Kita sering melihat orang-orang membuat keputusan yang buruk, lagi dan lagi, dan bertanya-tanya apakah mempersilahkan orang lain membuat keputusan untuk mereka akan membuat segalanya lebih baik.

9. Ketakutan yang Tidak Diketahui

ketakutan

Ketakutan yang tidak diketahui mudahnya dijelaskan seperti ini: pikiran memberitahu kita untuk bergerak maju, kita harus mengetahui apa yang menunggu kita di depan, karena “jika saya tahu, maka saya dapat mengendalikan situasi, dan jika saya tidak tahu, maka saya tidak bisa mengendalikan”. Bagian kedua ini adalah apa yang paling membuat kita takut, karena kontrol yang menetapkan pengukuran yang dapat kita gunakan untuk memanipulasi hasil dari tindakan kita. Dan ketika kita tidak menyukai hasil yang berbeda, hal ini hanya karena kita tidak dapat memahaminya, atau memiliki rencana untuk mengontrolnya terlebih dahulu.

Ketakutan ini telah bersama kita selama ribuan tahun, dan itu adalah bagian yang sangat besar dari apa yang telah membantu kita untuk bertahan hidup sebagai suatu spesies. Banyak dari kita, ketika kita masih anak-anak, takut akan kegelapan, terutama karena kita tidak mengetahui apa yang mungkin bersembunyi di sana, dan juga ketika kita tidak mengetahui apa yang mungkin ada di ujung lorong sehingga kita perlu untuk menghindar. Namun, ketakutan yang tidak diketahui ini sering menghambat kemajuan kita dan membuat kita lebih sulit menemukan dan memahami hal-hal baru, mendorong penolakan dan menutup pikiran.

8. Rasa Sakit

ketakutan

Karena intensitas dari rasa sakit fisik adalah murni perasaan subjektif, yang dirasakan berbeda oleh setiap individu, maka sangat sulit untuk membuat generalisasi dari apa yang menyebabkan rasa sakit seseorang. Tapi rasa sakit fisik dapat digambarkan sebagai perasaan yang tidak nyaman, umumnya disebabkan oleh kerusakan pada bagian tertentu dari tubuh.

Terlepas dari beberapa pengecualian, sebagian besar dari kita tidak toleran atau takut terhadap rasa sakit fisik, hal ini dapat merujuk pada kenyataan bahwa ada sejumlah besar obat-obatan yang berkaitan dengan penghilang rasa sakit, dengan berbagai tingkat kekuatan dan jenis rasa sakit. Penolakan rasa sakit disebabkan karena kita mengasosiasikan rasa sakit fisik dengan penyakit dan kesehatan yang buruk secara umum. Ketakutan ini bisa dihubungkan dengan rasa takut kehilangan kebebasan, seperti dalam kasus orang yang menderita sakit kronis dan biasanya melihat kebebasan fisik mereka terbatas karena mereka ingin menghindari melakukan tindakan yang menyebabkan, atau meningkatkan sensasi dari rasa sakit. Mari kita hadapi itu, rasa sakit bukanlah sensasi yang baik (meskipun beberapa orang percaya sebaliknya), dan seperti yang binatang lakukan, kita cenderung untuk menjauhkan diri dari apa yang menjadi penyebabnya, karena merupakan salah satu elemen kunci dalam insting bertahan hidup, serta cara otak kita memberitahu kita bahwa ada sesuatu yang salah dengan bagian tertentu dari tubuh kita atau bahwa tindakan yang kita lakukan menyebabkan efek negatif pada tubuh. Dalam kasus rasa sakit disini bukanlah hal yang buruk, tapi itu adalah cara untuk memberitahu kita bahwa kita harus berhenti melakukan apa sedang kita lakukan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut dari tubuh kita.

7. Kekecewaan

ketakutan manusia

Ketakutan ini agak sulit untuk dijelaskan, karena ada dua kekhawatiran yang berbeda yang terkait dengan kekecewaan – yang pertama adalah takut mengecewakan orang lain dan kedua adalah takut menderita karena kekecewaan yang dialami sendiri.

Kita mungkin pernah mengalami ketika anak-anak, di mana kita melakukan sesuatu yang salah atau bertingkah buruk, dan kita kemudian menanti datangnya hukuman atau setidaknya suara bentakan dari orang tua kita. Namun, sebaliknya kita justru mendapatkan pemandangan yang tidak menyenangkan dari orang tua kita yang menatap kita dengan kesedihan di mata mereka, dan mengatakan “Aku kecewa padamu”. Itu adalah kalimat yang lebih sakit lebih dibanding hukuman apapun.

Takut akan kekecewaan adalah bagian dari alasan kita menghindari sesuatu yang tidak diketahui, kekecewaan adalah perasaan ketidakpuasan saat harapan kita tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini jelas bahwa kita berusaha sebaik mungkin untuk menghindarinya, dan, seperti halnya rasa sakit, kekecewaan adalah perasaan negatif yang kadang-kadang diikuti dengan penyesalan, di mana seseorang bertanya apakah pilihan mereka memberikan hasil seperti ini. “Jika saya telah melakukan sesuatu yang berbeda, apakah itu membuat perbedaan?”

6. Kesengsaraan

ketakutan

Kemiskinan didefinisikan sebagai sebuah situasi yang berasal dari kurangnya sumber daya yang dibutuhkan untuk benar-benar memenuhi kebutuhan manusia. Tapi kesengsaraan adalah apa yang kita lihat sebagai kasus yang lebih ekstrim dari kemiskinan. Ini adalah ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dasar kita sendiri. Tidak ada yang suka melihat atau merasakan penderitaan manusia, karena kita tahu bahwa yang terburuk dari tindakan manusia keluar dari keputusasaan yang disebabkan oleh penderitaan. Ini adalah apa yang kita anggap sebagai titik terendah dalam kebutuhan manusia, dan itulah mengapa kita begitu takut. Tidak ada orang yang ingin merasa tidak memiliki apa-apa, dan ini telah menyebabkan media menginformasikan rasa takut ini lebih banyak dalam bentuk iklan, mengatakan kepada kita bahwa kita perlu melakukan lebih banyak hal dibanding saat ini yang kita lakukan. Dan, meskipun kita semua tahu seberapa buruk yang kita lakukan, pada akhirnya kita mengakui betapa sulitnya tidak memiliki barang-barang kebutuhan dasar untuk mendukung anda. Seperti yang dinyatakan dalam film tahun 2006 “The Last King of Scotland”, ketika Dr Nicholas Garrigan mengatakan diktator Uganda Idi Amin bahwa “uang bukanlah pengganti untuk apa pun”, ia membalas mengatakan “Anda mengatakan itu karena anda belum pernah miskin”.

5. Kesepian

ketakutan

Takut akan kesendirian adalah perasaan kekosongan menakutkan yang disebabkan oleh tidak adanya interaksi dengan manusia lain. Ketakutan ini juga telah berkembang dari salah satu naluri bertahan hidup dasar kita: kita takut kesendirian karena lebih mungkin untuk selamat jika kita hidup dalam kelompok.

Rasa takut kesendirian terkait dengan melakukan sesuatu dan tidak ada yang memperhatikan. Kita sering merasa bahwa agar tindakan kita menjadi berarti, seseorang harus memperhatikannya. Seperti pada kutipan filosofi “Jika pohon jatuh di hutan dan tidak ada orang mendengarnya, apakah pohon itu mengeluarkan suara?”. Jika anda membuat penemuan terobosan tapi tidak ada orang lain yang pernah tahu tentang hal tersebut, apakah penemuan anda masuk perhitungan?

4. Ditertawakan

ketakutan

Takut ditertawakan terkait dengan ketakutan mendapatkan kritik yang buruk, dan juga disebabkan oleh ketakutan sosial kita tidak memproyeksikan citra yang cukup baik dari diri kita kepada orang lain. Ketakutan ini paling sering dialami dalam apa yang disebut “demam panggung”. Kita semua merasa setidaknya sekali dalam hidup kita, harus berbicara atau tampil di depan umum. Kita takut bahwa kita mungkin mengacaukan dan menyebabkan penonton untuk merespon negatif, baik dengan mengejek kita dengan tertawa atau, dalam kasus-kasus terburuk, mencemooh. Meskipun beberapa orang berlatih cukup keras untuk tidak merasa demam panggung dan memiliki kepercayaan diri yang cukup, namun rasa takut ditertawakan tidak pernah benar-benar meninggalkan kita karena pada dasarnya kita tidak menyukai perasaan berada dalam sorotan untuk alasan yang negatif.

3. Penolakan

ketakutan

Ketakutan sosial ini merupakan salah satu alasan utama mengapa orang-orang bertindak seperti yang mereka lakukan. Kita cenderung (kadang-kadang membabi buta) mengikuti tindakan orang lain, karena membantu kita menghindari berurusan dengan penolakan dari masyarakat. Kita takut ditolak karena, seperti halnya takut kesendirian, kebanyakan dari kita hanya bisa membenarkan keberadaan kita melalui pengakuan dan penerimaan dari orang lain. Ada orang yang berpendapat bahwa penerimaan dari masyarakat adalah ilusi belaka, dan tidak ada hal seperti perilaku “normal’ seorang individu, yang ada hanyalah perilaku sosial – jika ini yang terjadi, maka inilah mengapa kita takut tidak berperilaku “benar” dan sesuai dengan norma-norma budaya. Ini benar-benar menempatkan kita dalam perspektif etika bermasyarakat; dimana sesuatu dikatakan benar-benar baik atau buruk hanya karena masyarakat mengatakannya demikian?

2. Kematian

ketakutan

Ketakutan ini bukanlah yang no 1, karena, meskipun itu adalah alasan utama yang mempengaruhi naluri kita untuk bertindak, namun kematian adalah kebenaran dimana semua orang akan melaluinya. Tapi itu bukan berarti kita menganggap kematian sebagai kekhawatiran terburuk kita sehari-hari, karena kita pada dasarnya menghindari memikirkan hal tersebut sebagai peristiwa yang akan terjadi dalam waktu dekat di hidup kita.

Ketakutan akan kematian erat kaitannya dengan ketakutan yang tidak diketahui; kita tidak tahu pasti apa yang akan terjadi pada kita ketika kita meninggalkan dunia ini. Tapi pada kenyataannya, kita sangat tertarik pada topik kematian, bahkan telah dikembangkan oleh seluruh budaya dan keyakinan agama yang telah mencoba untuk memberikan penjelasan perihal kematian sejak awal waktu. Hampir semua peradaban kuno memiliki bentuk atau cara menyembah kematian dalam beberapa cara, dan kita semua telah belajar untuk menghormati dan akhirnya menerimanya.

1. Kegagalan

ketakutan

Ketakutan ini layak mendapat tempat teratas karena mendasari semua tindakan dan keputusan kita. Kita semua melakukan dan tidak melakukan sesuatu, adalah untuk menghindari kegagalan. Kegagalan dapat berarti banyak hal; menyadari bahwa anda tidak menjalani hidup seperti yang anda inginkan, tidak berhasil dalam rencana anda, menemukan diri tak berdaya, atau dalam kasus terburuk bahkan menderita depresi.

Kegagalan adalah istilah yang sangat ambisius dan subjektif karena kegagalan memiliki perspektif yang berbeda-beda kepada setiap orang, apa yang dianggap sebagai kegagalan untuk satu orang, mungkin tidak dianggap kegagalan oleh orang lain. Untuk beberapa orang, kegagalan sebenarnya adalah cara untuk belajar dan mencoba lagi, sehingga tidak benar-benar berakhir, dan merupakan alat untuk referensi di masa mendatang. Ketakutan utama kegagalan berasal dari kekecewaan yang mengikutinya, perasaan yang dapat menyebabkan anda tidak ingin mencoba lagi. Itulah mengapa ini adalah ketakutan terburuk dari semua rasa takut. Kegagalan juga sering digunakan sebagai alasan untuk menunda-nunda, atau tidak melakukan apa pun untuk membuat situasi lebih baik – seperti “mengapa repot-repot?” atau “aku tidak cukup mampu melakukannya”

Comments

comments

 

 

Previous post:

Next post: