Top 10 Ular Berbisa di Dunia

March 21, 2014

Ada ribuan spesies ular di dunia, namun tidak semuanya berbisa. Sebagai contoh ular Phyton, ular ini tidak memiliki bisa, namun tetap bisa mematikan jika kita dililit olehnya. Di bawah ini kami telah membuat daftar 10 ular paling berbisa di dunia. Hati-hati jika anda berada di dekatnya, karena sekali ia menggigit anda, nyawalah yang menjadi taruhannya.

10. Rattlesnake

ular berbisa

Satu-satunya ular yang berasal dari Amerika dalam daftar ini. Rattlesnake atau disebut juga ular derik adalah ular yang mudah diidentifikasi dengan mainan yang ada di ujung ekornya. Mereka sebenarnya merupakan bagian dari keluarga Pit Viper, dan mampu menyerang dengan hanya 1/3 bagian tubuh mereka yang masih menyentuh tanah. Ular ini dianggap sebagai spesies yang paling berbisa di Amerika Utara. Anehnya, ular muda dianggap lebih berbahaya daripada yang dewasa, mungkin karena ketidakmampuan mereka untuk mengontrol jumlah racun yang disuntikkan. Sebagian besar spesies ular derik memiliki racun hemotoxic, yang dapat menghancurkan jaringan otot, menurunkan fungsi organ dan menyebabkan koagulopati (terganggu sistem pembekuan darah). Beberapa fungsi organ tubuh dapat mengalami kecacatan secara permanen, hingga mengakibatkan kelumpuhan anggota tubuh dan yang terburuk adalah kematian, meskipun telah dilakukan penanganan yang efektif dan cepat sesaat setelah gigitan. Beberapa gejala umum yang sering terjadi setelah bisa ini berada di dalam tubuh anda, diantaranya kesulitan bernapas, kelumpuhan, mengeluarkan air liur terus menerus dan pendarahan hebat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, gigitan ular berbisa selalu mengakibatkan cedera fatal. Gigitan ular berbisa yang tidak diobati dengan segera, khususnya dari spesies yang lebih besar, sangat sering berujung pada kematian. Namun, antivenin (antibisa), bila digunakan dalam kurun waktu tertentu, akan mengurangi tingkat kematian hingga kurang dari 4%.

9. Death Adder

death adder

Death Adder, ular berbisa ini banyak ditemukan di Australia dan New Guinea. Mereka benar-benar ular pemburu dan membunuh ular lainnya, termasuk beberapa dalam daftar ini, biasanya melalui penyergapan. Secara sekilas Death Adder mirip dengan Viper, dalam arti mereka memiliki kepala berbentuk segitiga dan pendek, dengan badan yang gemuk. Mereka biasanya menyuntikkan sekitar 40-100 mg racun dengan LD dari 0.4-0.5 mg/kg. Sebuah gigitan Death Adder yang tidak diobati segera adalah salah satu yang paling mematikan di dunia. Racunnya adalah neurotoxin. Gigitannya menyebabkan kelumpuhan dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu 6 jam, karena kegagalan pernapasan. Gejala-gejala yang timbul umumnya mencapai puncak dalam waktu 24-48 jam. Antivenin sangat berhasil dalam mengobati gigitan dari Death Adder, terutama karena mampu memperlambat efek dari bisa. Tapi sebelum diberi antivenin, gigitan Death Adder memiliki tingkat kematian 50%. Memiliki julukan ular dengan serangan paling cepat di dunia, Death Adder mampu menyerang dari posisi diam dan kembali lagi pada posisi awal dalam waktu 0,13 detik.

8. Vipers

vipers

Ular berbisa yang ditemukan di sebagian besar dunia, namun yang paling berbisa adalah jenis Saw Scaled Viper dan Chain Viper, yang ada di Timur Tengah dan Asia Tengah, khususnya India, Cina dan Asia Tenggara. Ular ini memiliki karakter cepat marah dan umumnya bergerak di malam hari, serta lebih aktif setelah hujan. Mereka juga sangat cepat. Kebanyakan spesies ini memiliki bisa yang menimbulkan gejala, dimulai dengan rasa sakit di lokasi gigitan, kemudian dengan segera diikuti dengan pembengkakan yang ekstrim. Pendarahan adalah gejala yang umum, terutama dari gusi. Terjadi penurunan tekanan darah dan denyut jantung menjadi lemah. Kulit yang melepuh terjadi di lokasi gigitan, dan menyebar ke bagian tubuh lain dalam kasus yang ekstrim. Muntah-muntah dan wajah yang bengkak terjadi pada sekitar sepertiga kasus. Rasa sakit yang amat sangat dapat berlangsung selama 2-4 minggu. Puncak pembengkakan seringkali terjadi dalam 48-72 jam, melibatkan anggota badan yang terkena gigitan. Perubahan warna dapat terjadi di seluruh wilayah yang bengkak, karena sel-sel darah merah dan plasma bocor ke dalam jaringan otot. Kematian akibat septikemia, kegagalan pernapasan atau jantung dapat terjadi dalam kurun waktu 1 sampai 14 hari atau bahkan lebih, paska gigitan.

7. Cobra Filipina

cobra filipina

Sebagian besar spesies Cobra tidak masuk dalam daftar ini, namun Cobra Filipina adalah pengecualian. Bisanya adalah yang paling mematikan dari semua spesies Cobra, dan mereka mampu menyemburkannya hingga sejauh 3 meter. Gigitannya memang hanya akan menyebabkan kerusakan jaringan minimal di lokasi gigitan, namun bisanya yang mengandung racun neurotoksin akan mempengaruhi fungsi jantung dan pernafasan, serta dapat menyebabkan neurotoksisitas, kelumpuhan pernapasan dan kematian dalam tiga puluh menit. Neurotoksin mengganggu transmisi sinyal saraf dengan melumpuhkan sistem otot saraf. Gejala yang umum termasuk sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, diare, pusing, dan kejang-kejang.

6. Ular Tiger

ular tiger

Ditemukan di daerah Australia, bisa ular Tiger mengandung racun neurotoksik yang sangat kuat. Kematian dari gigitan dapat terjadi dalam waktu 30 menit, tetapi biasanya memakan waktu 6-24 jam. Sebelum adanya antivenin, tingkat kematian dari gigitan ular Tiger adalah 60-70%. Gejala yang timbul dapat termasuk rasa sakit lokal di kaki dan daerah leher, kesemutan, mati rasa dan berkeringat, diikuti dengan kesulitan bernapas dan kelumpuhan. Ular Tiger umumnya akan melarikan diri jika bertemu manusia, tetapi dapat menjadi agresif ketika terpojok. Ular berbisa ini dapat menyerang dengan akurasi yang tepat.

5. Black Mamba

black mamba

Black Mamba yang menakutkan, ditemukan di banyak bagian benua Afrika. Mereka dikenal sangat agresif, dan menyerang dengan presisi yang mematikan. Mereka juga memegang rekor ular darat tercepat di dunia, mampu mencapai kecepatan hingga 20 km/jam. Ular berbisa ini dapat menyerang hingga 12 kali berturut-turut. Meskipun bentuknya relatif kecil, namun bisanya sangat mematikan. Sebagai perumpamaan saja, bisa yang terkandung dalam sebuah gigitan mampu membunuh 10-25 orang dewasa. Racun neurotoxin-nya bekerja dengan cepat. Gigitannya dapat menyalurkan sekitar 100-120 mg racun, secara rata-rata, namun pada beberapa kasus dapat meningkat hingga 400 mg. Jika racunnya mencapai pembuluh darah vena, maka kandungan sebesar 0,25 mg/kg saja cukup untuk membunuh manusia dalam 50% kasus. Gejala awal gigitan adalah nyeri lokal di daerah gigitan, meskipun tidak separah ular dengan racun hemotoxins. Korban kemudian mengalami kesemutan di mulut dan kaki, gangguan penglihatan, kebingungan yang parah, demam, air liur berlebihan (termasuk busa dari mulut dan hidung) dan pronounced ataxia (kurangnya kontrol otot). Jika korban tidak mendapatkan penanganan medis, gejala dengan cepat berkembang menjadi sakit perut parah, mual dan muntah, pucat, shock, nefrotoksisitas, toksisitas cardio dan kelumpuhan. Pada akhirnya, korban mengalami kejang-kejang, kesulitan bernapas, koma dan kemudian kematian. Tanpa antivenin, tingkat kematian hampir 100%, termasuk yang tertinggi dari semua ular berbisa. Tergantung pada sifat dari gigitan, kematian dapat terjadi antara 15 menit sampai 3 jam.

4. Taipan

ular taipan

Ular berbisa lainnya dari Australia pada daftar ini. Racun dalam bisa Taipan cukup kuat untuk membunuh hingga 12.000 kelinci percobaan. Racun akan membekukan darah korban, menutup pembuluh darah arteri atau vena. Racun ini juga akan mengganggu sistem saraf. Sebelum munculnya antivenin, tidak ada yang selamat dari gigitan Taipan, dan kematian biasanya terjadi dalam waktu satu jam. Bahkan dengan pemberian antivenin, sebagian besar korban masih harus mendapatkan perawatan yang intensif. Perilaku, ekologi dan morfologi ular yang sangat berbisa ini telah disamakan dengan Black Mamba dari Afrika.

3. Blue Krait

blue krait

Blue Krait, sejauh ini menjadi ular paling berbisa yang ditemukan di seluruh Asia Tenggara dan Indonesia. 50% dari gigitan mematikan Blue Krait mengakibatkan kematian, bahkan setelah diberi antivenin. Kraits berburu dan membunuh ular lainnya, bahkan melakukan kanibal terhadap sesama Kraits. Mereka berkembang biak malam hari, dan lebih agresif di dalam kegelapan. Namun, pada umumnya mereka cukup pemalu dan sering akan mencoba untuk bersembunyi daripada melawan. Racunnya adalah neurotoxin, 16 kali lebih kuat daripada ular Cobra, dengan cepat menyebabkan kelumpuhan otot dengan mencegah kemampuan ujung saraf untuk melepaskan bahan kimia yang mengirim pesan ke syaraf berikutnya. Hal ini diikuti juga dengan gejala eksitasi yang kuat (kram, gemetar, kejang), yang akhirnya membawa pada kelumpuhan. Untungnya, gigitan dari Kraits jarang terjadi karena sifat nokturnal mereka. Sebelum pengembangan antivenin, tingkat kematian adalah 85%. Bahkan jika antivenin diberikan dalam waktunya, kelangsungan hidup anda belum menjadi jaminan. Kematian biasanya terjadi dalam waktu 6-12 jam dari gigitan Krait. Bahkan jika pasien sampai ke rumah sakit, koma permanen dan bahkan kematian otak dari hipoksia dapat terjadi, mengingat lamanya waktu transportasi dari tempat kejadian untuk mendapatkan perawatan medis.

2. Eastern Brown Snake

eastern brown

Jangan biarkan namanya yang terkesan biasa saja ini justru menipu anda, sebab 1/14.000 dari satu ons racunnya cukup untuk membunuh manusia dewasa. Datang dalam berbagai spesies, ular Coklat dari Timur adalah yang paling berbisa. Sayangnya, habitat yang disukai ular ini berada sepanjang pusat populasi utama Australia. Ular Brown bergerak cepat, bisa agresif dalam keadaan tertentu dan telah dikenal untuk mengejar agresor serta berulang kali menyerang mereka. Bahkan ular yang masih remaja dapat membunuh manusia. Racun ini berisi neurotoksin dan pembeku darah. Untungnya bagi manusia, kurang dari setengah gigitannya yang mengandung racun dan mereka memilih untuk tidak menggigit jika memungkinkan. Mereka hanya bereaksi terhadap gerakan, jadi berdiri diam adalah cara yang efektif jika anda pernah menghadapi salah satunya di alam liar.

1. Fierce Snake atau Inland Taipan

inland taipan

Sebelumnya dalam daftar ini tidak ada sub-spesies, namun Inland Taipan dari spesies ular Taipan adalah pengecualian dan layak mendapat tempat tersendiri. Ular ini memiliki bisa paling beracun dari semua ular tanah yang ada di dunia. Hasil maksimum yang terdaftar untuk satu gigitannya adalah 110 mg, cukup untuk membunuh sekitar 100 manusia, atau 250.000 tikus! Dengan LD/50 dari 0.03 mg/kg, menjadikannya 10 kali lebih berbisa dari Rattlesnake, dan 50 kali lebih kuat daripada bisa Cobra. Untungnya, Inland Taipan tidak terlalu agresif dan jarang ditemui oleh manusia di alam liar. Tidak ada korban jiwa pernah tercatat, meskipun berpotensi membunuh manusia dewasa dalam waktu 45 menit.

Comments

comments

 

 

Previous post:

Next post: